Kategori
Bunda Sayang

Family Project Keluarga Ahsan

Bismillahirrahmanirrahim hari pertama mencoba menjalankan project yang sudah direncanakan. Sahabat saya adalah anak saya yang sudah berusia 4 tahun bulan Hijriyah ini 😍. Hari pertama saya mencoba bercerita menjelang tidur. Yup fampro saya adalah bercerita menjelang tidur malam.

Hari pertama ini saya membacakan cerita tentang fabel. Unta nabi Shalih. Fampro ini dilakukan menjelang tidur malam. Mengapa saya memilih fampro ini karena banyak sekali buku anak yang terbengkalai hampir dua tahun kebelakang semenjak saya hamil anak ke dua. Bismillah semoga bisa Istiqomah untuk terus membacakan cerita pada anak. Selain itu kami mengharapkan bonus anak bisa tidur mandiri terpisah dari kamar orang tua.

Alhamdulillah fampro hari pertama berjalan dengan baik. Kakak mau mendengarkan, dan juga antusias bertanya dan menanggapi cerita saya. Sekali dua kali dia menyamakan cerita saya dengan apa yang pernah ia tonton di televisi atau YouTube. Saya membetulkan argumennya. Alhamdulillah ingatannya baik juga πŸ’•

Perbaikan kedepan sepertinya harus menggunakan jam baku menjelang tidur agar anak terbiasa dengan jam biologisnya. Karena kami menginginkan bonus anak bisa tidur mandiri juga. Yang perlu dipertahankan semangat dan Istiqomah membacakan cerita kepada anak.

Presentase antusias dan keikutsertaan anak 95%

Semoga fampro besok kakak tetap semangat seperti hari ini

Iklan
Kategori
Bunda Sayang

Kemandirian dalam Berempati

Alhamdulillah hari ke 12 Kakak menunjukkan empatinya kepada adik ketika adik meminta kerupuk dari tangan kakak. Awalnya hampir saja kakak tidak membolehkan adek meminta sekaligus berteriak. Buru-buru saya menengahi dan memberikan arahan bagaimana sebaiknya bersikap. Alhamdulillah kakak mau berbagi. Sayangnya momen kakak berbagi ini tidak terekam dengan kamera.

Alhamdulillah dari segi berempati, kakak membuktikan bisa melewatinya pada hari ini. Hal ini sangat bagus dalam hal mengendalikan emosinya. Egonya untuk rasa memiliki terhadap suatu hal mulai terasah dan terlatih alhamdulillah.

Tidak instan dan tidak mudah mengajarkan anak untuk berbagi

Mengingat diusianya sekarang ini adalah usia ego. Tidak perlu buru-buru dan kaku untuk memberikan ilmu tentang empati ini. Karena anak pasti akan melewati fase ini dan ada waktunya sendiri untuk bisa melunak hatinya untuk mau berbagi.

Tetap semangat ibu-ibu yang sedang melatih kemandirian anak ❀️. Sabar adalah koentji πŸ’•. Alhamdulillah hari ini saya bahagia melihat perkembangan emosi anak, dan anak terlihat enjoy dengan pilihannya.

Kategori
Bunda Sayang Tak Berkategori

Tidak Semua Ekspresi Heboh Ibu Menyenangkan

Saya ini orangnya mudah kaget, intonasi cenderung tinggi. Kadang dikira ngomong sambil marah, padahal mah ngga sadar kalau nada bicara ngga pas πŸ™ˆ

Anak-anak pun jadi korban salah nada saya. Pernah denger ngga kalau punya anak itu harus ekspresif? Katanya sih biar anak emosinya kepancing. Emosi positif maksudnya, EQ-nya jalan gitu. Tapi pada kenyataannya sifat kagetan saya menurun ke anak πŸ˜‚. Pas anak-anak masih bayi, saya bersin aja mereka nangis kenceng, atau pas kita ajak ke masjid denger suara bedug adzan nangis juga. Jadi bisa dibayangkan, ketika saya berlaku ekspresif yang heboh mereka ngga seneng apalagi ketawa, tapi mukanya serem lihat emaknya.

Well saya pribadi memiliki tantangan tersendiri ketika berkomunikasi dengan anak agar tidak salah nada bicara πŸ™ˆ. Maksud hati menghibur, tapi anak jadi kabur haha. Pas banget sama temuan saya tadi, ketika anak jatuh begitu saya heboh “Astaghfirullah adek, sakit ya dst” ekspresinya malah mrembik mrembik mau nangis. Beda kalo muka saya datar trus tidak banyak kata langsung membenarkan posisi anak dari jatuhnya mereka malah lebih survive bangkit dari kagetnya. Hihihi anak anak ngga bisa ditebak emang. Mungkin fitrah anak saya lebih bisa mandiri untuk bangkit dari rasa tidak nyamannya (misalkan jatuh) dia merasa safety ketika saya menanggapinya dengan stay cool.

Temuan pada kakak hari ini alhamdulillah ini semua karena Allah yang mampukan saya, tetiba kakak ikut minta shalat Dzuhur bersama. Alhamdulillah saya dan suami secara sengaja memperlihatkan rutinitas ibadah shalat didepan anak, sengaja mengajak juga meski respon anak lebih sering menolak. Tadi begitu melihat sendiri anak yang meminta shalat tanpa paksaan ada rasa hangat di hati. Alhamdulillah, bismillah kita belajar Istiqomah sama-sama ya nak.. ❀️

Lalu temuan selanjutnya saya mendengar dan melihat sendiri si Kakak menegur dan membetulkan secara langsung celana kakak yang melorot, “Adek malu, unik umik celana adek umik, melorot”. MasyaAllah Tabarakallah, memang benar apa yang dikatakan teori bahwa anak itu meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Saya sering bilang setiap kakak habis mandi ataupun BAK-BAB, “kakak ayo cepat pakai celana, malu itu aurat”. Hari ini saya menyaksikan sendiri hal tersebut dilakukan kakak kepada adeknya, MasyaAllah.

Hari ini saya bahagia karena bisa menyaksikan secara langsung kebaikan anak-anak yang tumbuh dengan fitrah baiknya. Saya sebagai orang tua semakin semangat untuk selalu memberikan contoh yang baik πŸ’•

Kategori
Bunda Sayang

Cemburu Pemicu Anak Tak Mau Mandiri?

Saya menyadari sesuatu pada diri kakak, yang tadinya sudah bisa toilet training secara mandiri, sudah bisa ambil minum sendiri di dispenser, mandi tanpa dipaksa, sekarang seakan berubah 180Β°. Saya bertanya-tanya. Alhamdulillah semoga saya tidak salah berasumsi, apakah luapan rasa cemburu kakak pada adeknya berbentuk manja terhadap suatu kegiatan yang tadinya bisa ia lakukan sendiri?

MasyaAllah Tabarakallah, hati anak yang lembut itu memiliki perasaan yang peka. Apakah ini bentuk teguran Allah karena saya mulai tidak memerhatikan tumbuh kembang si Kakak?

Tantangan saya tersendiri untuk tidak lelah mengungkapkan rasa bangga saya, bahagia saya, dan perasaan positif lainnya kepada anak agar anak senantiasa dihargai dan dia menjadi percaya diri dan berujung mandiri.

Untuk kegiatan mengasah mandiri anak, yang saya lakukan hari ini adalah lebih kepada memberikan dorongan apapun itu kegiatannya yang sedang dilakukan anak. Temuan hari ini adalah kakak meminta diambilkan minum. Saya ajak dia, ayok ambil minum sama umi, sambil saya berdiri dan bergerak menuju tempat minum alhamdulillah kakak mau mengikuti langkah saya.

Temuan berikutnya kebanyakan merengek, crancky. Seperti yang telah saya uraikan diatas, sepertinya itu adalah luapan rasa cemburu terhadap adeknya. Tantangan saya tetap tenang menghadapi seperti materi di Kompro bulan lalu, dan tidak lelah membersamai anak untuk bisa mandiri.

Temuan di sore hari setelah mandi. Kebetulan piama kakak berkancing. Saya pancing, “Kakak bisa betulin ini ngga?” sambil saya menunjuk ke arah kancing (karena alhamdulillah untuk memakai celana dan kaos kakak sudah bisa sendiri 😍). Kakak menerima tantangan saya dan dia melakukan dengan exited.

Kakak memakai baju berkancing

Beranjak ke malam hari, saya beri kakak tantangan untuk membereskan mainannya, dan alhamdulillah dilakukan dengan gembira sambil berhitung (tanpa saya meminta, tetiba kakak bersenandung angka atau huruf Hijaiyah), MasyaAllah 😍

Membereskan mainan

Diusianya yang sudah emot tahun menurut kalender Hijriyah membuat saya ingin mengajarkan berbagai kemandirian yang sesuai dengan kemampuan anak. Sesuai umurnya, dan tanpa paksaan. Sebisa mungkin mendampingi dan memberi contoh agar anak melakukan dengan kesadaran diri dikemudian hari, bismillah kita sama-sama belajar ya nak!

Kategori
Bunda Sayang

Cara Mudah Memutus Impian Anak

Weekend adalah momen yang paling jarang untuk memegang gawai. Sehingga hari ini tidak ada tangkapan layar untuk diabadikan.

Kegiatan hari Minggu ini adalah seputar bebikinan di dapur. Mulai dari membuat roti kekinian, odading. Hingga minuman resep dari rumbel boga untuk ATM bulan ini, manggo jam.

Saya bagian menakar bahan odading dan pemandu step mengolahnya, pak suami bagian nguleni 🀭. Si Kakak bereksperimen memindahkan potongan adonan odading ke tempat penyimpanan dan beberapa potongan juga dia potong sendiri. Tantangan banget untuk tidak interupsi di ranah dapur 🀫. Dan yaaa saya banyak banget interupsi ke anak. Jangan gitu jangan gini. πŸ™ˆ

Begitupun ketika Kakak ikut proses membuat manggo jam. Dia ikut menuang gula pasir ke dalam wadah. Gulanya berceceran, dan yaa lagi-lagi saya tidak bisa menahan komentar. Jangan gitu lah kak gulanya tumpah semua dst πŸ™ˆ

Ternyata gampang banget ya buat memangkas keingintahuan anak. Astaghfirullah…

Jadi niat awal mengapa saya suka melibatkan anak dalam berkegiatan, segala kegiatan. Tidak hanya bermain, meskipun anak pertama lelaki, tapi saya berprinsip agar nantinya dimanapun dia bertumbuh, dia tidak kekurangan dalam hal skill bertahan hidup, salah satunya cakap di dapur. Insyaallah nantinya berguna juga ketika dia memiliki keluarga kecil dan bisa membantu istrinya di dapur πŸ’•

Banyak sekali kekurangan saya sebenarnya, tapi karena Azzam saya tak kalah membara agar kami belajar bersama-sama, terus berubah menjadi lebih baik lagi.

Meskipun sebenarnya banyak interupsi dari saya, alhamdulillah saya masih melihat antusias kakak untuk membantu. Saya juga ikut senang karena sudah berhasil mengajak keluarga berkegiatan bersama 😍

Di akhir hari, ada yang membuat saya senang lagi. Alhamdulillah Masya Allah Tabarakallah tetiba Kakak menunjukkan sesuatu ke saya dan Abinya, “Mik mik sudah mainannya”. Maksudnya dia sudah menepati janjinya untuk membereskan mainannya menjelang tidur. MasyaAllah ada desiran bahagian lewat di dalam dada, hangat sekali ❀️. Memang ada hubungannya juga dengan materi komunikasi produktif di bulan lalu. Kakak tadi izin bermain lagi, lalu saya membuat perjanjian karena sudah malam dan mainan sudah tersusun rapi tapi mau dibongkar lagi πŸ˜…. Boleh kak tapi kakak harus janji nanti diberesin lagi, janji? “Janji..”. Dan MasyaAllah dia menepati janjinya. 😍

Kategori
Bunda Sayang

Sudah Siapkah Ortu Melatih Anak Mandiri?

Hari Sabtu adalah hari favorit anak-anak karena biasanya diajak jalan-jalan meski hanya keliling komplek. Agenda hari ini adalah menemani ummi mengantar paket dan belanja bulanan.

Kids corner

Disuatu gudang ekspedisi dibilangan juanda tersedia kids corner. Anak-anak bisa menunggu orangtuanya sambil bermain disana. Ketika di tempat ekspedisi, saya melihat peluang melatih kemandirian kepekaan kakak terhadap sekitar. Kebetulan sekali adek sedang kesulitan mengambil mainan yang jatuh, secara mainan tersebut barang yang berat dan sulit diangkat oleh adek. Saya nge-tes, “Kak, coba liat adek, kasian itu mainannya jatuh”. Awalnya cuma ditengok lalu abai πŸ˜…. “Kakak bisa nolong adek ngga? Itu mainannya adek jatuh, kasian ngga bisa diambil” baru dia ngeh, “Ooh jatuh” lalu kakak segera mengambilkan mainan tersebut. “Pancingan” seperti ini semoga bisa menjadi awal kakak peka terhadap sekitar kedepannya πŸ€—. Foto yang terdokumentasi adalah kejadian setelah kakak menolong, lost moment πŸ˜…

Jejak cinta adek

Temuan berikutnya adalah si adek yang merasa merdeka bermain di tempat terbuka. Kebetulan kami shalat Dzuhur di masjid yang memiliki tempat khusu beristirahat. Lumayan anak-anak tidak akan menggangu jamaah lain yang sedang beribadah. Adek sangat excited dengan lingkungan baru. Dia mengeksplor kesana kemari dengan riang gembira. Sambil berjalan patah-patah dan merangkak. Ditambah kakaknya yang berlari kesana kemari, menambah adrenalin si Adek ingin menggapai kakaknya. Alhamdulillah adek merdeka bermain dengan keinginannya yang besar untuk bisa berjalan karena memang tempatnya yang luas dapat memicu adek berjalan. Tidak ada interupsi ketika ia terjatuh, alhamdulillah membuat adek tidak kapok mencoba berjalan lagi dan lagi. Semangat belajar berjalan ya dek! 🚢🚢🚢

Suapan kemandirian

Lanjut dikegiatan malam hari yaitu makan malam. Kegiatan mandiri kakak untuk bisa makan sendiri alhamdulillah sudah kami biasakan jauh sebelum saya mengikuti challenge Bunda Sayang di usianya memasuki tiga tahun. Namuuun, kesalahan saya adalah tidak sabar ketika proses kakak menghabiskan makanannya hehe maaf ya kak, kadang juga terbit omelan karna makanan yang tidak habis atau lauknya habis duluan dibandingkan nasinya πŸ˜„. Malam ini saya mencoba memerdekakan cara makan kakak, boleh tercecer, boleh menikmati sehingga resiko makannya lama dan minim interupsi “Tuh kan kak, makanannya jatuh semua” 🀫 mohon bersabar tidak komentar πŸ˜„

Alhamdulillah untuk kemandirian hari ini saya berhasil membuat anak merdeka, mandiri dengan pilihannya sendiri, pengambilan sikap dan menstimulasi mandiri berkegiatan.

Namun disisi lain saya seakan bercermin, sudahkah saya membuat anak benar-benar merdeka? Karena terkadang memang keceplosan untuk langsung meralat kesalahan yang anak lakukan. Apakah saya sendiri belum siap melihat anak mandiri? Sudah tidak memerlukan saya? Tetiba mellow membayangkan anak tumbuh besar dan merindukan berkumpul meramaikan suasana rumah πŸ˜…πŸ™ˆ

Rencana diesok hari ingin terus mengeksplor kelebihan rasa mandiri yang sudah anak punya, dan terus menstimulus rasa mandiri ketika berada di luar rumah agar menjadi pribadi yang peka dengan sekitar dan berani mengambil sikap. Alhamdulillah hari ini saya senang sekali dan anak-anak antusias dengan rasa merdekanya melakukan hal-hal secara mandiri.

Kategori
Bunda Sayang

Berani Melangkah

Kemandirian hari ini yang saya temui pada diri adek adalah. Berani memulai untuk berjalan. Sebagai orang tua saya hanya perlu memberikan dorongan semangat dan afirmasi positif bahwa anak pasti bisa. Saya dan Abinya melakukan gerakan heboh dan suasana riang gembira agar anak terstimulus melangkah.

Rekam jejak adek 😍

Lucunya ketika kami heboh bingits, dia seperti ragu melangkah anatara ingin segera jalan dan grogi melihat kehebohan kami πŸ˜‚πŸ˜†

Tapi begitu kami tak memperhatikan tetiba si adek jalan. Kita aslinya udah siap kamera, biar sewaktu- waktu adek japan, kamera sudah siap 🀭. Alhamdulillah terekam juga momen adek berjalan 😍

Kegiatan kakak hari ini dia memilih ingin bermain dan belajar tentang apa. Ketika saya mengajukan bermain huruf Hijaiyah dia menolak. Dia memilih bermain foto dan labirin kelereng.

Hasil foto kakak : labirin sederhana

Dia sedang senang-senangnya bermain stiker yang ada di kamera hp. Selama bermain kamera hp, kakak menunjukkan sisi dewasanya yaitu mau berbagi berfoto bersama adek. “Jangan dipencet dek, adek agak sini nanti ngga kelihatan, adek jangan gerak”

Saya yang denger dan lihat momen itu hanya bisa senyam senyum, MasyaAllah Tabarakallah πŸ’•.

Momen ini sayangnya tak bisa diabadikan karna kamera ada ditangan anak-anak πŸ™ˆ

Target kemandirian dua hari ini adalah agar anak memiliki rasa percaya diri atas tindakan yang akan diambil. Memiliki tekad yang baik dalam mencapai sesuatu.

Alhamdulillah sudah bisa dilihat meskipun itu sedikit, namun gelagat anak sudah ada rasa yakin, tidak malu. Mulai mau untuk memulai.

Strategi untuk memberikan stiker atas kemandiriannya dan ketika mencapai stiker poin tertentu akan ada hadiah menanti hari ini belum bisa dilakukan. Karena kakak lebih memilih untuk bermain di luar target saya. Semoga besok bisa terlaksana πŸ€—

Hari ini alhamdulillaaah saya sukses menahan untuk tidak berkomentar dan banyak memberikan interupsi atas yang kakak lakukan 🀭

Tantangan hari ini hampir saja mengoreksi proses kakak belajar mandiri, alhamdulillah buru-buru nge rem mulut, langsung mingkem, inget oh iya πŸ˜†πŸ€

Planning esok hari masih tetap sama, memerdekakan keinginan kakak agar tujuan kami sebagai orang tua tercapai.

Bagaimana perasaanku hari ini? Alhamdulillah bahagia dan tanpa beban. Karena tidak berekspektasi lebih, tidak ikut campur dengan kemandirian anak. Dan anak enjoy happy melewati harinya tanpa ummi yang suka ngoreksi 🀭

Bismillah ya nak kita sama-sama belajar πŸ€—

Kategori
Bunda Sayang

Memunculkan Rasa Percaya Diri Kakak

Bismillahirrahmanirrahim 15 hari kedepan saya dan anak-anak akan belajar tentang kemandirian. Disini saya sebagai fasilitator yang mendampingi, memfasilitasi, menstimulus.

Dimulai pada hari ini, hari pertama challenge kemandirian, saya terapkan langsung pada kedua anak saya. Anak pertama usia 3thn 10 bulan dan adeknya 1thn. Saya tidak merencanakan apa-apa untuk challenge kemandirian, karena saya ingin melihat bibit mandiri yang sedang terpancar dari anak-anak saya.

Untuk si Kakak, saya melihat bahwa dia sedang ada difase ingin dimengerti untuk saat ini. Jika melihat pengalaman dari challenge Kompro (Komunikasi Produktif) bulan lalu case-nya adalah kompro agar mau mandi dengan ajakan yang tidak menggunakan nada tinggi atau tidak perlu marah dan juga tak perlu bujuk rayu. Akhir bulan September alhamdulillah kakak menampakkan ‘apa sih maunya’, ternyata dia ingin kembali menjadi kecil. Mandi dengan bak mandi. Bak bayi sejak ia kecil dan sekarang dipakai adeknya. Alhamdulillah Allah tunjukkan kemudahan ini.

Alhamdulillah lagi bertepatan dengan bulan ini challenge nya tentang kemandirian. Akhirnya sekarang tidak perlu ada adu argumen πŸ˜‚, tinggal beri pilihan. “Kakak mau mandi?”, Ngga mau. “Atau mau mandi dengan bak?” Mauu.

Baik kita beri ruang pilihannya sendiri. Mau mandi asalkan dengan bak mandi bayi. Alhamdulillah fase mandi terpecahkan 😍

Hari ini kemandirian kakak bisa dilihat dari kegiatannya seharian antara lain mewarnai, aktifitas menempel, dan mencocokkan. Selain itu dia sempat membantu memotong tempe.

Hilmi mewarnai

Ketika mewarnai, saya menemukan rasa tak percaya diri pada kakak. “Mana bisa aku mik?” Bisa kak, jawab saya. Memang gerak motorik kakak untuk menggunakan alat tulis masih perlu diasah lagi. Ketika mewarnai ataupun membuat coretan di atas kertas hasilnya kurang jelas, seperti kurang menekan. Saya tetap memberi semangat meski ada kalanya dia menyerah dan fokus teralihkan pada kegiatan lain.

Kegiatan menempel kakak

Ketika berkegiatan menempel awalnya kakak juga menyerah duluan, “Mana bisa aku mik”, Bisa kak.. mudah kok ini. Lihat cara umi menempel. Alhamdulillah sesi menempel dia jalani dengan bahagia karena dia bisa melakukan hingga tuntas.

Kakak belajar memasak

Kegiatan di dapur ini diluar ekspektasi saya, karena saya pikir dia tidak akan tertarik. Ketika dia melihat saya memotong tempe dia menawarkan diri, “aku mau, Hilmi nak potong tempe” (maafkan ini anak saya logat Melayu karena suka Upin Ipin 🀭). Iya hati-hati ya pisaunya tajem. Proses memotong tempe tidak sempat terabadikan, namun mencampur tempe dengan tempe juga ia nikmati 😍. MasyaAllah Tabarakallah

Konsentrasi menata pensil warna

Oh iya hampir terlupa, si Adek tak mau kalah. Dia juga sibuk dengan dunianya ‘meniru’. Dia melihat umi dan kakaknya membereskan pensil warna, dan diapun ingin ikut serta seperti pada gambar diatas 🀭. Alhamdulillah masyaAllah 😍

Strategi untuk melatih kemandiriannya pada hari ini saya lebih banyak memberikan motivasi bahwa kakak pasti bisa melakukan sesuatu yang dia anggap sulit.

Alhamdulillah hari ini saya sukses memberikan ruang pada kakak tanpa ada “interupsi” jika kakak melakukan sesuatu yang kurang tepat sesuai standard saya. Alhamdulillah bisa menahan diri dari banyak komentar atas apa yang sudah dilakukan kakak. Karena hari ini saya full membersamai anak dalam setiap kegiatan, kakak dan adek lebih tenang dan tidal kemrungsung. Saya sendiri lebih menikmati ketika bunpro dan ilmu kemandirian anak ini saya jalankan secara beriringan 😍

Rencana esok hari saya ingin memberikan hadiah jika kakak mandi 10 hari berturut-turut tanpa ada tolakan, tangisan, teriakan 😁

Tantangan untuk hari ini, saya hampir keceplosan untuk berkomentar hasil karya kakak. Masih kurang sabar ketika melihat kedua anak saya ‘membantu’ merapikan rumah.

Kategori
Bunda Sayang

Tentang Semangat Belajar

Jenjang sekolah ada batasnya, namun kesempatan belajar tidak akan ada habisnya. Alhamdulillah saya berkesempatan untuk belajar dan terus belajar melalui komunitas Ibu Profesional. Disana semua guru semua murid, pengalaman yang mahal akan sangat banyak didapati disana 😍.

Muncullah berbagai keinginan yang membuncah segala sesuatunya aku ingin bisa, ingin semua dikuasai. Tapi kembali lagi semua itu ada batasnya, dan kembali lagi ke prioritas diri dan keluarga. Apa yang sedang benar-benar dibutuhkan atau hanya sekedar keinginan. Memerlukan perenungan yamg mindfulness dan dengan good mood.

Ilmu yang ingin saya pelajari saat ini adalah tentang ilmu parenting, komunikasi produktif, dan ilmu berbisnis. Setelah merenung cukup lama ketiga ilmu itu yang saat ini benar-benar menjadi fokus saya dengan kondisi real dalam keluarga saya. Kondisi anak-anak sedang berada di masa emas, saya ingin mengerti parenting lebih dalam. Kondisi pernikahan kami yang masih seumur jagung ingin saya maksimalkan agar tak salah arah. Kondisi saya pribadi yang memiliki banyak mimpi ingin juga berkiprah berhasil dalam bisnis walau dari dalam rumah.

Selain lmu yang ingin dipelajari, ada beberapa ilmu sekunder untuk menunjang keberhasilan saya sebagai ibu profesional (menurut versi saya dan keluarga) saya ingin mengasah ilmu tentang financial keluarga, menulis, ilmu tentang public speaking, dan juga membuat kurikulum belajar dan bermain anak.

Poin yang terakhir, di dalam Komunitas Ibu Profesional mengajarkan bahwa kita tak hanya menerima ilmu saja, tapi juga perlu berbagi ilmu. Lalu ilmu apa yang bisa kita turkan ke masyarakat luas?

Saya pribadi sedang menjalankan kebiasaan zerowaste. Meskipun belum total namun perlahan hijrah untuk terus bisa memberikan sumbangsih kebaikan kepada bumi. Perjalanan hijrah menuju zerowaste saya insyaallah bisa menjadi pemantik semangat teman-teman diluarsana yang ingin juga memulai hidup zerowaste dan merasa sendirian πŸ€—. Selain itu saya sedikit menguasai ilmu design menggunakan aplikasi canva, feel free bila ada yang ingin mengetahui canva lebih dalam 😊

Berawal dari mimpi dan keinginan di atas, perlu juga mengukur apa kiranya yang akan menjadi hambatan kedepannya ketika ingin menapaki lautan ilmu. Saya mengukur diri saya dan kebiasaan yang sudah berjalan dalam keluarga kami. Ada beberapa tantangan yang akan saya hadapi, antara lain moody yang siap menyerang, faktor eksternal tak terduga misal anak rewel, migrain bulanan yang belum bisa dicegah, mencari celah waktu untuk dapat share ilmu yang sudah didapat dan sedang dijalankan.

Kita boleh berencana, namu ingat ada Allah yang berhak atas hidu kita πŸ˜‡

Kategori
Bunda Sayang

Menyelami Diri

Menyelami diri ibarat aku sedang bercermin, menilik ke dalam diri, kedalam hati, kedalam pikiran. Seperti apakah aku? Bagaimana kah aku? Mengapa aku ada? Untuk apa aku ada? Untuk apa aku memiliki keluarga? Mengapa aku ditakdirkan berjodoh dengan dia? Dan segudang pertanyaan lainnya.

Menyelami diri hampir sama dengan muhasabah, namun muhasabah lebih tepat disandingkan dengan introspeksi diri. Menurut saya pribadi menyelami diri termasuk di dalamnya dapat kita renungi, muhasabahi umur yang sudah terlampaui di belakang kita. Sambil juga melihat potensi yang ada di dalam diri. Seolah benar-benar β€˜menguliti’ diri sendiri. Siapakah aku?

Mengikuti serangkaian perjalanan belajar di universitas kehidupan, salah satunya saya mencoba mengikuti alur komunitas Ibu Profesional. Mulai tergambar bagaimana fitrah seorang ibu dan sedikit memaksa saya mengubah mindset bahwa menjadi ibu rumah tangga, amanah ibu yang otomatis tersemat adalah pekerjaan yang harus dijalani dengan profesional bukan β€˜let it flow’.

Apapun amanah ibu baik itu diranah publik (bekerja di luar rumah) maupun amanah domestik (serangkaian kegiatan menjenuhkan di dalam rumah -mindset saya selama ini_) kuncinya adalah harus tuntas. Quote pak Dodik yang selalu membayangi, β€œBersungguh-sungguhlah kamu di dalam maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik”. Meskipun saya pribadi sampai saat ini terus tertatih –entah sampai kapan saya akan benar-benar sadar_ dengan tuntasnya amanah seorang ibu, maka seluruh keluarga akan merasakan bahagia. Perasaan iri dengan jobdesk yang ada, adanya faktor perhitungan, kurangnya kepercayaan diri dan minim perhatian, semakin membuat hati dan pikiran semakin ciut.

Tugas-tugas yang diberikan oleh Ibu Profesional sangat membantu dan memaksa saya sadar, meski melaluinya benar-benar terasa terseok-seok seperti sedang menyeret beban yang amat berat.

Setelah menyelami diri saya adalah sosok yang…

Memiliki banyak mimpi dan mudah terjatuh saat orang terdekat begitu saja memangkas mimpi saya. Pernah ada sahabat yang mengatakan meskipun saya terlihat kuat, namun saya membutuhkan support system yang benar-benar bisa mendampingi dan memberi dorongan yang lebih agar saya tetap on track dan tidak mudah goyah.

Saya adalah seorang yang sangat senang belajar

Memiliki semangat tinggi namun mudah jatuh saat ada β€œhentakan” eksternal Lebih suka dengan sesuatu yang terorganisir dengan baik, tidak suka dengan sesuatu yang tidak berencana. Akan menjadi siksaan tersendiri ketika saya harus berhadapan dengan kejutan-kejutan di luar sesuatu yang sudah saya tata sedemikian rupa.

Seperti apakah saya setelah mengikuti Ibu Profesional?

Saya semakin percaya diri dengan apa yang saya yakini itu benar (tentunya sesuai syariat) dan cocok bila diterapkan dalam keluarga saya meski orang-orang terdekat memandang sebelah mata apa yang sedang saya bangun . karena di komunitas ini saya memiliki banyak teman meski berbeda pandangan atas suatu hal namun kita saling mensupport satu sama lain atas apa yang sudah dan sedang kami ambil. Komunitas ini penuh dengan positive vibes.

Semangat belajar saya tersalurkan dengan seluruh kegiatan yang diadakan oleh komunitas ini. Begitu banyak ilmu dan pengalaman dari teman-teman yang sangat bermanfaat dan insyaAllah menjadi ladang pahala jariyah.

Berada di lingkarangan Ibu Profesional membuat semangat saya tetap utuh, namun meskipun manusiawo kadang saya melalui masa up and down saya bisa tetap on the track memulihkan semangat saya untuk terus melangkah menggapai mimpi-mimpi saya

Mulai menerima dan mengerti bagaimana dalam membawa diri di lingkungan keluarga, sehingga tidak begitu jetlag ketika harus menerima keadaan di luar planning yang sudah saya atur. Nilai dan tujuan yang saya miliki yang saya pahami dan saya jalankan memiliki kesamaan dengan komunitas Ibu Profesional, namun saya tidak sampai berfikir seserius ibu dan bapak hingga terstruktur kerangka berpikir. Alhamdulillah dari kerangka berpikir piramida IP saya menjadi semakin tercerahkan bahwa memang menjadi ibu itu memerlukan strategi agar apa yang kita upayakan bisa dirasakan meluas mulai dari keluarga sampai kepada masyarakat. Paling penting adalah ketika kita sudah tuntas dengan diri sendiri, ketika kita sudah tuntas dengan keluarga kita, maka dampak dari keberhasilan membaungun keluarga yang sesuai dengan nilai-nilai syariah dan berbobot positif akan terasa pula kepada masyarakat luas.

Berikut tujuan saya pribadi dan keluarga dan yang tercantum pula dalam komunitas:

  1. Rumah adalah tempat berkembang bagi ibu seperti saya yang berkiprah di ranah domestik. Berkembang disini saya maksudkan tidak berkembang bagi diri saya sendiri, namun di dalamnya juga terdapat kebahagiaan anak-anak dan keutuhan kelurga. Rumah menurut saya adalah tempat dimana kami sebagai orang tua dapat membentuk akhlak anak-anak kami kelak. bila laki-laki kami bisa bahagia jika nantinya dapat menjadi pemimpin yang amanah, meskipun dalam lingkup kecil di keluarganya, dapat menjadi suami dan ayah yang dapat meneruskan mimpi-mimpi kami untuk bermanfaat untuk orang banyak. Bila perempuan maka harapan kami dapam menjadikan dia calon pwmbwntuk peradaban, meneruskan estafet perjuangan kami.  
  2. Ibu adalah sekolah pertama, itulah yang membuat saya sangat senang belajar. Alhamdulillah komunitas ibu profesional memfasilitasi itu, sehingga saya sebagai ibu tidak kagok dan memiliki visi misi terarah dalam mendidik anak, membentuk peradaban
  3. Saya sendiri sedang terus berproses untuk menjadi manager rumah tangga yan baik. Baik di ranah keuangan, memanage kegiatan rumah agar seimbang membersamai anak dan urusan domestik, dan juga terjun di arena dakwah dan masyarakat. Alhamdulillah komunitas profesional adalah wadah yang tepat untuk mengasah ketajaman berinteraksi dengan orang lain, lebih khusus dengan pasangan dan anak-anak.
  4. Di dalam komunitas Ibu Profesional bukan suatu hal yang mustahil apabila ada seorang ibu yang bangga akan profesinya sebagai ibu, mendidik anak dengan sepenuh hati, sangat cekatan dalam mengelola manajemen domestiknya, bisa mandiri secara finansial dan tetap menempatkan anak dan keluarga sebagai prioritas paling atas, serta keberadaannya sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarganya dan masyarakat sekitarnya. Saya mengambil kalimat ini dari web Ibu profesional (https://www.ibuprofesional.com/tentang-kami). Poin ke-4 yang saya tulis ini membuat saya semakin yakin mengikuti menjalani apa-apa yang ada di dalam Ibu Profesional karena self care saya sendiri, saya berhak bahagia, dan ternyata ketika saya bahagia, keluarga saya juga akan bahagia. Kami saling membutuhkan satu sama lain, saling menularkan bahagia, saling bangga atas apa yang kami capai masing-masing.