Kategori
Bunda Sayang

Istana Pasir

Makna Ibu Profesional kebanggan keluarga adalah ibu yang bisa menempatkan diri dan sesuai dengan porsinya dimana ia sedang melayani ‘customer’nya dan menempatkan diri untuk mengambil ‘me time’ untuk menjaga kewarasan dengan rutinitas dirumah aja ataupun itu-itu saja, agar tak muncul jenuh dan meledak-ledak menghadapi customer. Jika ia menjadi seorang ibu maka pembawaan sesuai dengan apa yang anak butuhkan saatitu misal bermain, menstimulus tumbuh kembang anak, memberikan teladan life skil, dll. Jika berhadapan dengan suami maka mesyesuaikan dengan apa yang sedang dibutuhkan suami, misal butuh istirahat agar tidak diganggu anak-anak, butuh menyendiri, butuh me time, dll.

Makna ibu Profesional yang saya ciptakan sendiri di atas, menjadi planning sekaligus menjadi cermin goal diri ingin menjadi seperti apakah saya ketika akan memasuki kelas Bunda Sayang, selain memang masih terus berproses dan menjadi doa tersendiri semoga menjadi pengingat  keistiqomahan dan pecutan bagi saya ketika sedang malas dan atau futur.

Goal individu diibaratkan berjuang menjadi mutiara yang indah. Butiran pasir yang diasah menjadi indah, baik dari segi pikiran (lebih open mind, semangat untuk terus memperbaiki diri dari segi belajar, terutama untuk parenting membersamai anak), dari segi hati (menjadi sosok yang mengedepankan positif thinking, pemaaf), dari segi sifat (menjadi pribadi yang lebih bijak dan sabar). Tempaan demi tempaan berbuah harapan besar menjadi sosok mutiara. Ibarat tersebut saya paparkan dibawah ini.

Untuk individu saya pribadi mengibaratkan saya adalah butiran debu, butiran pasir jika saya tidak ditempa, tidak bertemu pengalaman hidup, tidak bertemu orang-orang hebat yang telah lebih dahulu menjalani kehidupan, tidak mau belajar, dan tidak berTuhan. Ketika saya ditempa oleh kehidupan dan makna dari segala sesuatu yang telah saya lalui maka saya telah dan sedang akan menjadi sesuatu, yaitu mutiara. Ketika saya sudah menjadi sesuatu yang bisa disebut mutiara, saya berfikir mutiara hanyalah sesuatu yang cantik, indah, sekedar pemanis, sebagai aksesoris, sebagai hiasan yang dipajang atau jika dipakai akan terlihat lebih menarik. Saya memutuskan untuk menjadi lebih dari itu.

Saya menyebutnya sebagai kerang mutiara. Dimana keberadaan saya menjadi ibu kebanggaan keluarga saya. Saya ingin menjadi wadah terbentuknya mutiara-mutiara berkualitas untuk bisa bermanfaat ketika bertemu di luar sana. Dilihat dari keberadaan sebagai istri saya dapat membantu meringankan pekerjaan suami di rumah. Tak jarang mendengar dibalik suami yang sukses ada istri yang hebat. Saya ingin menjadi bagian dari ibu yang hebat itu. Sebagai kerang, saya ingin bisa terus membersamai mutiara suami hingga ia sukses di dunia maupun di akhirat.  Dilihat dari keberadaan sebagai ibu, saya ingin bisa mengantar anak-anak mampu melewati rintangan di dunia dan akhirat kelak.

Permainan kali ini adalah membuat istana pasir. Istana pasir ibarat keluarga kita bagaiman akan dibentuk. Awal sekali ketika ingin membuat suatu bangunan maka kita perlu membuat fondasi yang kokoh. Maka fondasi ini saya ibaratkan ridho suami. Saya meminta ijin untuk mengikuti bunsay agar ilmu  apa yang saya dapat nanti dapat saya terapkan dikeluarga tentunya dengan disesuaikan kondisi keluarga saya. Ketiksa fondasi sudah kuat, saya dan suami sudah sama-sama satu frekuensi maka selanjutnya fondasi dari anak-anak. Fondasi mereka adalah rasa bahagia selama bermain dan belajar bersama saya ibunya. Bagaimana saya dan suami membuat suasana senayaman dan fasilitas yang nyaman selama membangun istana pasir nanti. Fasilitas tak harus mewah, karena anak-anak tak akan pernah protes selama ayah dan ibunya membersama dengan sepenuh jiwa raga. Jika fondasi-fondasi itu sudah stabil, maka ketika mendapatkan terjangan ombak sehingga ada bangunan istana pasir yang roboh kita dapat dengan mudah menyelesaikannya kembali. Terjangan ombak ibarat faktor internal seperti moody, rasa malas, jenuh, anak sakit, dll yang dapat menganggu aktifitas membangun istana pasir. Membuat istana pasir ini pasti akan menjadi suatu hal yang gampang-gampang susah karena memang sifat pasir yang rapuh dan mudah rusak, maka kita sebagai keluarga memerlukan sketsa bentuk istana pasir yang akan dibuat, agar ketika ada ombak menerjang kita tidak kehilangan arah untuk kembali menyusun kepingan pasir.

Untuk membantu istana pasir dapat terbangun dengan indah, saya memulai dari sendiri untuk membuat Peta Diri. Saya termasuk orang yang mudah terdistrak terutama oleh gadget, maka strateginya adalah saya perlu menjauhkan diri saya dari gadget selama membersamai anak dan selama tugas saya sebagai istri dirumah belum tuntas. Mudah terdistrak ini juga akan sangat terbantu ketika saya membuat cecklist apa saja yang perlu saya lakukan dalam harian, mingguan, dan bulanan. Termasuk dalam bermain dengan anak dan akan memasak apa sayang sangat terbantu dengan membuat cecklist. Saya membutuhkan apresiasi dari suami semisal sebatas ucapan terimakasih, ucapan sayang, atau sebatas ketenangan ketika dipeluk. Untuk sifat moody saya bisa diatasi dengan pecutan minuman manis dan atau minuman hangat. Ide-ide yang tidak bisa dadakan untuk terealisasikan memeprlukan spare waktu untuk menyiapakan kurikulum bermain dan belajar anak, begitupun dengan menu makan harian. Sehingga saya sangat terbantu jika suami menghandle bermain bersama anak beberapa jam.

Hasil akhir bagaimana istana pasir kami apakah menjadi istana pasir yang indah, kuat, dan estetik adalah tergantung bagaimana kami sebagai keluarga menjadi suatu tim yang solid antara suami, istri, anak, ayah, dan ibu.

Semoga istana pasir kami menjadi istana pasir yang diridhoi Allah swt

Kategori
Tak Berkategori

Berteman dengan Doa

Bismillahirrahmanirrahim…

Ingin berbagi kisah tentang doa,
Berawal dari suami yang tiba-tiba cerita kalau sedang mengajukan resign ke kantornya, ya saya bilang tiba-tiba karena ternyata surat resign tersebut telah diajukan 2 bulan sebelum beliau bercerita di detik itu. Campur aduk? Tentu! Bukan karena saya tidak percaya bahwa rejeki ada yang mengatur, bukan pula karena takut jatuh miskin, sungguh bukan itu…

Sebagai istri sekali lagi saya merasa tidak dianggap, tidak dijadikan bagian dari solusi, tidak dijadikan teman berbagi, tidak dijadikan tempat berkeluh kesah

Marah, iya saya marah bukan karena suami resign, lebih karena komunikasi kami sebegitunya tidak lancar selama 4 tahun perjalanan usia pernikahan kami. Sedih kecewa patah hati dan teman-temannya menggelayuti hati, astaghfirullahaladzim

Saya merasa sangat tidak berdaya, yang Maha Pembolak Balik Hati, yang Maha Menggerakkan Hati sedang menguji dititik kelemahan kami, komunikasi!

Saya diam, makhluk seperti apakah yang sedang saya hadapi? Apakah sosok suami? Apakah sosok ketakutan? Apakah sosok harapan? Atau was was dari makhluk yang bernama jin terus menghembuskan?

Senjata saya hanya satu, doa! Segala macam doa saya ucap, istighfar tak terlewat, saya memcoba mencari info kesana kemari tentang pekerjaan, meskipun saya tahu jawaban ‘tidak boleh bekerja’ pasti akan terlontar. Tapi saya tidak ingin berdiam diri selain doa mengiringi

1 bulan berlalu beberapa perusahaan mulai memanggil suami untuk tes dan interview. Alhamdulillah singkat cerita suami sudah diterima bekerja.

Roda itu terus berputar, kita tak tahu di episode mana kita akan menapak dengan bahagia, susah, sedih, sakit, sehat. Maka berteman dengan doa adalah sebaik-baik senjata yang kita miliki sebagai orang beriman. Kita tak tahu doa yang mana yang akan didengar Allah. Jadikan sabar dan syukur sebagai sandaran mengharap ridha Allah swt

Kategori
Tak Berkategori

Hakikat Rasa Syukur


Saya kembali diingatkan oleh kajian tentang syukur yang dibawakan oleh Ummu Balqis. Syukur sendiri memiliki makna membuka dari kata syakara, lawan dari kata kafara – menutup, dimana salah satu maknanya adalah melupakan nikmat dan menutup-nutupinya. Astaghfirullahal’adzim bahkan kadang kita tanpa sadar melakukannya. Contoh kecil, “Waduh udah ashar aja, kerjaan rumah belum kelar” (ini mah saya 🙈) atau “wah hujan padahal baju kotor numpuk”, dan sejenisnya. Semoga kita selalu mengingat hal remeh ini yang ternyata membawa kita kepada kufur nikmat, naudzubillah. Syukur adalah salah satu sifat yang dimiliki Allah swt seperti yang tercantum dalam Al Qur’an yang berbunyi,

“… Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (Q.S Asy Syura ayat 23)

Syukur adalah Ibadah

Dengan kita bersyukur maka kita telah melakukan suatu kebaikan dan itu merupakan ibadah yang disukai Allah swt. Bersyukur merupakan ibadah yang dianjurkan oleh Allah seperti yang tertera pada Q.S Al Baqarah : 152 yang artinya, “…Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku”. Selain itu perintah lain tentang bersyukur juga Allah sampaikan pada Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 172 yang artinya, Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya” . MasyaAllah begitu detail Allah mengatur segala aspek tentang kehidupan, bahkan sekecil rasa syukur sudah memiliki pahala tersendiri di sisi Rabbnya.


Hikmah bersyukur

Ada beberapa hikmah atau kebaikan yang akan kita dapat ketika kita mau bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada hamba yang penuh pinta dan sedikit memuja-Nya ini.

  1. Syukur adalah sifat orang yang beriman. Lalu ketika kita kufur nikmat? Wah perlu dipertanyakan keimanan kita 😨
  2. Merupakan sebab datangnya ridha Allah. “… Jika kamu bersyukur, Dia meridhai kesyukuranmu itu…” (Q.S Az Zumar : 7). MasyaAllah, ketika kita menjadi hamba yang pandai bersyukur maka Allah akan ridha dengan perbuatan kita 😍.
  3. Merupakan sebab selamatnya seseorang dari azab Allah. “Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui” (Q. S An Nisa: 147). Yang paling relevan dengan keadaan kita saat ditengah wabah seperti ini adalah, kita harus pandai-pandai bersyukur, insyaAllah Allah akan menjauhkan kita dari azabnya yang pedih.
  4. Merupakan sebab ditambahnya nikmat. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S Ibrahim 7). Berkaitan dengan poin nomor empat, ketika kita telah pandai bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepada kita, subhanallah.
  5. Balasan baik dunia akhirat seperti yang tertuang dalam Al Qur’an surat Ali Imron ayat 145

“Balasan baik dunia akhirat. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Tanda Tergolong Hamba yang Bersyukur

  1. Mengakui dan menyadari bahwa Allah telah memberinya nikmat
  2. Lisannya basah menyebut nikmat Rabbnya “Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (Q.S Adh Dhuha 11). Bagaimanakah caranya? Ketika mendengar kabar baik, maka kita ucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ “Segala puji bagi Allah, dimana dengan nikmatnya kebaikan menjadi sempurna”.
  3. Serius menunjukkan ketaatan pada Allah swt.

Cara Menunjukkan Rasa Syukur yang Benar

  1. Pujian hanya untuk Allah semata
  2. Tidak dengan ritual syirik
  3. Sujud syukur

Tips Agar Hidup Selalu Dinaungi Rasa Syukur

  1. Jangan pernah lupakan mengucap terimakasih kepada orang lain
  2. Gunakan akal, rasa dan panca indera untuk merenungi nikmat Allah.
  3. Qana’ah
  4. Berdzikir. Dengan menyebut-nyebut nama-Nya maka itu menjadi bukti ungkapan rasa syukur kita atas apa yang telah dianugerahkan kepada hamba dari Rabbnya.
📎pinterest : Nisa Khusna
Kategori
Tak Berkategori

Lelah yang Membahagiakan

Ramadhan ini sangat membuat ku lelah sebagai ibu rumah tangga yang berada di perantauan jauh dari orangtua maupun saudara, yang biasanya buka puasa dimasjid, kali ini mulai dari takjil hingga makan berat menyiapkan secara mandiri. Pinter masak? Lebih tepatnya pinteri nyontek resep di cookped 😂.

Memikirkan menu esok hari saja sudah melelahkan, apalagi action-nya 😅😅. Beginilah saya dengan polosnya yang apa adanya benar-benar dari enol Ramadhan tahun ini.

Bener-bener pengalaman untuk pertama kali banget menyiapkan segala kebutuhan sahur dan buka secara mandiri (pake diulang, penekanan banget dah, ya karena ini pengalaman yang amazing tersendiri buat saya pribadi 😁) . Biasanya masih ada yang beli satu dua atau bahkan “ngga bondo” alias buka di masjid. Demi keamanan bersama (social distancing & #dirumahaja) mau ngga mau saya secara tidak langsung dilatih Allah untuk bisa masak (hikmah~).


Jadi, kenapa saya memilih berbuka di masjid karena saya mencari praktis dan fokus beribadah saja di bulan Ramadhan. Faktor sudah memiliki anak memilih ambil yang praktis selama persiapan dan setelah berbuka, saya jadi memiliki waktu ibadah lebih banyak pula, seperti tilawah dan shalat di masjid.

Pengalaman pertama bagiku ingin kuabadikan dalam tulisan ringan di blog, sebelumnya mau nostalgia beberapa poin selama Ramadhan di tahun sebelumnya..

  1. Sebelum maghrib sudah ada di masjid. Tujuannya selain memang ingin mendaftarkan diri agar dapet takjil hihihi (tapi tetep infaq khusus untuk takjil dan sahur jika mabit, tenang~ 😁) pengen dapet tempat yang pevve juga buat anak. Karena memang prinsip saya dan suami memperkenalkan masjid dan berjamaah di masjid sedari kecil (kebetulan anak pertama saya laki-laki). Nah untuk yang mempermasalahkan sebaiknya anak tidak ke masjid karna takut mengganggu jamaah yang lain beribadah its oke, saya tidak menyalahkan pendapat itu, kita hanya berbeda prinsip saja
  2. Mengejar 10 hari terakhir untuk ikut serta mabit di masjid. Bawaan saya udah kayak mau mudik karna bawa anak. Seperangkat alat tidur buat anak, jajan dan mainannya lengkap tidak boleh ada yang absen, karena jika ada salah satu saja yang tak terbawa maka tak afdhol hhe. Saya terinspirasi dari penulis buku yaitu bu Sinta Yudisia, dimana beliau kemana-mana selalu membawa sekantong kresek mainan buat anaknya. Bosen mainan satu, keluarkan kegiatan mainan yang lain, begitu seterusnya, jangan sampai gadget yang dikeluarin. Miris kadang masih banyak jamaah yang membawakan anak gadget padahal lagi shalat jamaah.
  3. Jajan takjil tanpa rasa waswas. Kalau lagi pengen jajan selain buka di masjid, kami biasanya sudah punya list “inceran” penjual takjil favorit.

Nah yang membuat bulan ini begitu “lelah tapi menyenangkan” adalah puasa kali ini alhamdulillah diamanahi dua anak, sehingga saya berhadapan dengan managemen emosi anak pertama, menyusui anak ke dua, menyiapkan puasa, beberes rumah seperti biasa, dan tentunya puasa, bismillah semoga Allah kuatkan dan mampukan 😇


6 hari awal puasa saya masih halangan, puasanya masih belum teruji. Begitu hari ke-7 saya sudah bisa mulai puasa, dan di hari pertama saya puasa ini lah saya kelimpungan, pusing kepala dan lemes pake banget nget. Trus saya sudah mulai pasrah ya Allah kalau memang saya harus bayar fidyah saya ikhlas, mengingat puasa tahun lalu ketika saya hamil saya memang bayar fidyah beberapa hari karena memang sangat tidak kuat. Namun tetap saya bulatkan tekad untuk berusaha puasa alhamdulillah biidznillah sudah dapat sekitar tiga hari berjalan dengan lancar tanpa lemas dan pusing.


Sebulan sebelum Ramadhan saya memiliki beberapa target yang ingin dicapai, antara lain :

(1) khatam tilawah Al-Qur’an sebanyak 2x dan sekali khatam membaca tafsirnya. (2) Membaca minimal 2 buku yang mangkring di rak selama beberapa tahun belakang, dan hal ini bersambut dengan adanya teman komunitas yang berinisiasi membuat sebuah grup semacam ODOJ (One Day One Juz dalam membaca Al-Qur’an) namun bedanya kita memiliki target untuk membaca buku dengan rentan halaman tertentu sesuai target pribadi masing-masing, intinya menggiatkan membaca buku setiap hari sesuai kemampuan masing-masing, berkumpul dengan sesama teman yang memiliki misi yang sama sehingga perjuangan membaca buku per hari terasa menyenangkan 😍, bagi temen-temen yang mau join grupnya boleh komen dibawah 🤗. (3) Hafal minimal 1 surat, waktu itu belum memutusan ingin mmenambah hafalan surat apa. Tapi, gayung bersambut ada semacam tahfidz online yang diadakah oleh Griya Al-Qur’an yang bekerjasama dengan radio Suara Muslim Surabaya menghafal surat Al Kahfi. Singkat cerita saya gabung dan mendapatkan tips dan trik menghafal dengan mudah dan insyaAllah cepat serta dapat langsung diaplikasikan, berikut saya cantumkan untuk link-Youtube nya (oh ya kalau ada yang nonton jangan lupa like dan subscribenya yaa, hehe bukan promosi, tapi membantu tontonan dakwah seperti ini agar bisa menyebar keseluruh pelosok negeri). (4) Target berikutnya adalah rutin nge-blog, dan alhamdulillah sangat terbantu dengan adanya acara BW (Blog Walking) yang diadakah oleh grup whatsapp khusus mahasiswa Bengkel Diri yang telah menyelesaikan tugas kuliah online nya terkait blogging, penasaran Bengkel Diri itu apa? Join aja perkuliahan Bengkel Diri melalui IGnya, berikut saya cantumkan link profil IG-nya


Kembali ke “lelah yang menyenangkan”, saya sebagai IRT yang kali ini dipaksa “mengurung diri” oleh Allah, saya belajar bernegosiasi dengan ego saya sendiri, yaitu ego ingin diperhatikan dan ego emosi serta ego ingin istirahat. Well terdengar “ah elu sok banget dah, manusiawi kali kayak gitu”. Entahlah tapi saya merasa seperti ditempa oleh Allah dengan keadaan sekarang. Rasa capek saya yang pertama adalah rasa tidak ikhlas karena saya merasa mengerjakan semua ini sendirian, udah gitu ngga ada reward-nya pula (yaa semacam pujian atau trimakasih gitu karena udah bisa mengerjakan semua ini sendirian dan intens). Ego-ego semacam itulah yang saya maksud. Hihi baper yak maklum emak-emak

Tapi dari situlah, rasa berat itulah, rasa tidak ikhlas itulah, rasa lelah yang ada, senyum anak-anak, tangisannya, perhatian suami – perhatian yang logis banget itu- membuat saya tertampar-tampar sendiri. ((“ngapain gue kemarin marah-marah, ngapain kemarin sungut-sungut ngga jelas, ngapain kemarin kelepasan emosi ke anak)), dan ngapain-ngapain lainnya. Meskipun entah besok akan terulang atau tidak, namun satu hal yang saya yakini bahwa pandemi di bulan Ramadhan ini, Allah ingin mendidik hamba-hambaNya apakah akan lulus ujian atau akan remedi. Serem juga denger kata remedi dari Allah, kapaaan kita bisa membayarnya? Sanggup ngga kita menjalani remedi dari Allah?


Oke kembali lagi ke “lelah yang menyenangkan” eheheh. Ego-ego yang saya rasakan diatas, sebenernya terbayar (dari sudut pandang subjekrif seorang IRT) jika melihat rumah bersih, melihat anak lahap makan masakan kita sendiri (meskipun saya masak pun baru bisa setelah punya anak dua ini dan nyontek cookped pula 😂), suami jarang jajan makanan di luar, suami ikut beberes rumah, anak tumbuh sesuai tumbuh kembangnya, dan pemandangan sejenis lainnya yang mana tidak terlihat jelas ketika pandemi ini tidak ada. Kenapa begitu? Karena kita jadi jarang bertafakkur, kalau ada pandemi gini kan kita jadi sering muhasabah ya, oh gini oh gitu dan sebagainya.


Jadi, produktif di awal puasa saya kali ini adalah dapat merasakan dan mengartikan setumpuk ego-ego saya yang berharap pujian manusia (red. suami) menjadi rutinitas yang jika mau dihitung akan terbayar dengan rasa syukur dan tafakur atas segala keadaan yang ada, alhamdulillah ‘ala kulli haal

Kategori
Tak Berkategori

Merindukan Anak Lelakiku

9 Oktober 2020,


Aku merasa pening, lemas, bekas jahitan masih juga terasa sakit. Setelah diketahui ternyata hb rendah sekali saat itu, yaitu tujuh. Jika saat itu aku pergi ke rumah sakit, mungkin sudah disuruh transfusi darah. Bidan yang menangani ku waktu itu sudah terlihat agak cemas, menyarankan untuk minum jus buah bit. Tapi apa daya saya tidak bisa keluar kemana-mana, suamipun harus segera berangkat kerja setelah kontrol tujuh hari pasca melahirkanku. Sebenarnya sudah sejak dua hari yang lalu saya merasa lemas, letih, lesu, tapi saya hanya berfikir, ah mungkin karena efek setelah melahirkan dan apa-apa saya kerjakan sendiri. Tidak ada yang membantu karena kami adalah keluarga rantau, jauh dari ortu.

Esoknya pesanan aqiqah untuk anak ke dua saya datang, tapi saya sudah tidak bisa bangun dari tidur, kondisi Sidoarjo panas sekali waktu itu, kamar terasa seperti oven, meski kipas angin sudah menyala. Yang saya rasakan waktu itu antara sadar dan tidak, saya hubungi suami untuk segera pulang, saya hubungi teman-teman untuk segera datang membantu menghabiskan sepanci gule kambing untuk dibawa pulang. Gayung bersambut, ayah saya menelpon kalau ada mobil kantor yang sedang melakukan perjalanan dari Surabaya ke Blitar. Ayah memutuskan untuk menarik saya pulang sampai kondisi saya membaik.
Langsung saya iya-kan dan alhamdulillah suami mengijinkan. Jadilah waktu itu segenap jiwa raga disisa-sisa tenaga saya, saya beberes semua keperluan saya dan anak-anak selama entah berapa hari saya harus pemulihan di Blitar.
Singkat cerita saya sudah di Blitar dan tiba-tiba saja awan mendung menggelayuti hati. Entah kenapa dan datang dari mana. Saya merasakan ada yang hilang, entah itu apa. Saya belum paham maksud hati. Hari berganti, malam pun datang lagi. Setelah saya menyelesaikan urusan terhadap bayi saya, mulailah beranjak tidur, bergantian menidurkan anak laki-laki saya yang 2 bulan lagi akan memasuki usia tiga tahun waktu itu. Setelah ia tertidur, awan mendung dalam hati datang lagi, tiba-tiba air mata menetes. Saya menangis sejadi-jadinya tanpa suara, entah mengapa. Rasa rindu yang dalam membuncah begitu kuat. Ya, saya secara spontan dan tiba-tiba begitu saja menangis merindukan anak lelaki ku, Farras Hilmi Arrasyid yang tengah terlelap tertidur. Kupandangi punggungnya, ku usap, kubelai kepalanya, permintaan maaf terucap dan teriring seuntai doa untuknya. Kupeluk sangat dalam, sedalam rasa rinduku padanya, sambil terus ku menangis hingga ku terlelap.


Jam satu dini hari kuterbangun karena si Bayi menangis, ternyata mengompol dan lanjut minum ASI. Sambil masih melow, kubermuhasabah diri ada apa dengan diriku? Mengapa aku begitu merindukan anak lelakiku? Jika ditanya kenapa sampai nangis begitu? Habis pergi jauh? Sakit? Atau kenapa? Maka ku jawab, Alhamdulillah kami baik-baik saja. Alhamdulillah ala kulli hal saya menjadi ibu rumah tangga yang selalu membersamai anak sehingga saya tahu persis perkembangan dan apa yang sedang terjadi padanya. Entah kenapa dua malam terakhir waktu itu hati saya begitu syahdu.


Seperti ada rasa bersalah yang menyusupi, seakan-akan hampir tiga tahun terakhir saya kurang hadir untuk anak saya, ya meski saya selalu bersamanya, tetapi ada rasa kurang maksimal membersamainya. Apakah saya sedang baby blues waktu itu? Atau sedang mengalami syndrom sesuatu? Wallahua’lam saya pun masih bertanya-tanya hingga saat ini.


Saya menangis seperti itu kurang lebih selama lima malam. Jika sekarang ditanya, apakah masih merasakan kerinduan yang sama? Masih, hanya saja tidak sampai menangis dan merasa ada yang hilang seperti dulu, namun menulis kembali ingatan kala itu tetap saja membuat air mata menetes dan terbawa suasana.

Kategori
Matrikulasi IIP

Adab Mencari Ilmu

Sebelum mengamalkan sesuatu, syaratnya adalah kita memiliki ilmu. Sebelum ilmu, ada ADAB yang perlu diperhatikan untuk membuka pintu ilmu agar mudah untuk kita pahami.

Peran kita sebagai ibu dan orang tua adalah mengamalkan ADAB menuntut ilmu dengan baik, sehingga anak-anak kita dapat mencontohnya dengan baik pula. Karena ADAB tidak bisa diajarkan namun ditularkan. Adab menuntut ilmu berkaitan erat dengan keberkahan dari ilmu yang kita dapat, sehingga dari ilmu tersebut dapat terasa manfaatnya bagi kita, keluarga, masyarakat dan umat.

Ada beberapa ADAB yang perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu: Adab Pada Diri Sendiri

Ikhlas dan mau membersihkan jiwa sebelum menuntut ilmu. Istilahnya Tazkiyatun Nafs. Jadi sebelum jiwa kita bersih dari sifat-sifat buruk seperti sombong, merasa paling benar, merasa paling pintar, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati. Karena ilmu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati,

Selalu bergegas, menghadiri majelis ilmu dengan segenap hati dibuktikan dengan duduk paling depan, datang paling awal,

Menuntaskan Ilmu yang sedang dipelajari. Ada banyak cara mengikat ilmu yang sudah kita dapat, diantaranya dengan mengulang-ulang ilmu tersebut, segera dipraktekkan, dan mencatat ilmu yang didapat.

next, adab yang perlu diperhatikan adalah….

Adab Terhadap Guru/ Penyampai Ilmu

Jika kita melihat jaman milenial sekarang, banyak pelajar yang memiliki prestasi akademis yang membanggakan namun adabterhadap gurunya sangat disayangkan. Lalu sikap seperti apakah yang perlu kita miliki terhadap para guru kita? pertama, mencari ridha guru, menaruh rasa hormat, serta mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Ilmu agar diberi rasa syukur dan hormat kepada guru, agar mudah memahami ilmu yang disampaikan. Sikap santun untuk berkomunikasi kepada guru juga harus diperhatikan, baik ketika bertatap muka langsung atau berkomunikasi melalui layar hp.

Adab berikutnya adalah,

Adab Terhadap Sumber Ilmu

Tidak meletakkan sumber ilmu berupa buku di sembarang tempat. Selain itu tidak melakukan penggandaan, membeli, dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, tanpa sepengetahuan penulisnya

Tidak mendukung perbuatan para plagiat dengan cara tidak membeli buku tersebut dengan tujuan untuk menuntut ilmu

lalu bagaimana jika sumber ilmu berasal dari dunia online? di dunia onlie pun kita tidak boleh asal menyebar info yang kita dapat. Sebagai contoh, “copas dari grup sebelah” tanpa mencari sumber ilmunya dari mana. Dalam dunia online harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. Jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan

Sumber: Tim Matrikulasi IIP Batch7

Kategori
Bengkel Diri

Kapok ikut Bengkel Diri (?)

Mau cerita sedikit banyak tentang Bengkel Diri (BD), karena ada beberapa temen yang suka DM di Instagram tanya tentang Bengkel Diri apalagi kalau habis upload tugas hhe. Bengkel Diri itu semacam kuliah online, yang dirilis oleh Ummu Balqis. Pertama kali tahu tentang Bengkel Diri ini ya dari akun IG Ummu Balqis ini. Berawal dari gabutny saya dikala itu antara stress dan jangkepnya diri, saya follow lah akun Ummu karena memang konten-kontennya yang positif, ditambah ada parenting juga dan ada konten penjagaan kewarasan mamak. Lalu dari situ ummu mulai promo kalau buka kulwap Bengkel Diri dan seterusnya. Dibilang promo yang kayak jualan ngga juga, kalau menurutku magnet dari aku ikutnya Bengkel Diri terletak pada figur Ummu Balqis yang masyaAllah banget kayak sosok ibu yang dititipkan Allah di dunia maya, tsaah eh tapi bener lho ngga mengada-ada ini murni penilaian saya pribadi.

Lanjut ikut level 1-nya Bengkel Diri. Pertama kali gabung ke grup bingung, ini kok grup digembok, hanya admin yan bisa mengirim pesan. Ini ntar caranya tanya jawab gimana deh? Tak lama kemudian di invite juga ke grup “CAFE”. Jadi selama mengikuti perkuliahan nanti siswi-siswinya (iya hanya muslimah only, karena memang sementara BD dibuka hanya utuk perempuan) diinvite ke dalam dua grup. Satu untuk kuliah satu lagi untuk chit chat bebas. Lagi-lagi di buat amazing, selama kuliah berlangsung tertiiib banget, jadi ngga bakal ada yang saling tumpuk chatnya. Kalau misal ada pertanyaan yang ingin diajukan di setor ke moderator dulu, lalu sama moderator pertanyaan di share di grup perkuliahan dengan merahasiakan identitas diri. Jadi enak gitu runtut, penyampaian kuliah jelas dan urut. Nah kalau ada uneg-uneg dari peserta bisa disampaikan ke grup CAFE yang bisa share apa aja, mulai share masalah, share tugas, tanya apa aja kalau misal ada yang bisa bantu dan jawab pasti di jawab sama temen-temen lain juga. Pastinya ada peraturan yang berlaku no SARA, no Ghibah, dan no no perlakuan yang ngga muslimah banget lainnya. Sampai sini masih pada bingung ama kulliahnya?

Di paragraf ini saya coba perinci tentang sistem kuliah di Bengkel Diri. Untuk perkuliahannya sendiri berjalannya selama 2 jam, satu jam pertama penyampaian materi melalui gambar dan voice note (VN) dan satu jam kedua untuk tanya jawab. Jeda antara materi tanya jawab terdapat jeda istirahat selama 10 menit. Jeda 10 menit itu digunakan para mahasiswi setor pertanyaan ke moderator secara personal, setelah itu moderator share di grup perkuliahan tanpa menyebutkan identitas mahasiswi, sehingga kita tidak perlu malu untuk menanyakan sesuatu. Setelah perkuliahan selesai, pengampu atau pemateri akan memberikan tugas. Eist jangan serem dulu denger kata tugas, tugasnya sendiri sangat aplikatif di kehidupan sehari-hari, sehingga sifat tugasnya tidak menyulitkan.

Oh ya setiap harinya kita diberikan terget setor amalan yaumiyah. Apa itu? Amalah harian mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sehari kita udah baca al Quran berapa ayat, berapa halaman dst, semalem shalat qiyamul layl ngga, shalat duha ngga, shalatnya 5 waktu sudah lengkap apa masing bolong-bolong. Shalat rawatibnya gimana? Naahh gimana? Keliatan berat banget ya? Sebenarnya perkuliahan ini ingin melihat habit kita, misalkan shalat 5 waktu masih bolong-bolong nggapapa kok, asalkan jujur sama diri sendiri, di BD ngga bakal ada yang tahu lho kalau kita mau bohong, hanya antara kita sama Allah aja kalau masalah setor amalan sehari-hari. Karena moderator, bahkan kepala sekolahnya Ummu Balqis ngga akan ngerti kita mau memberikan amalan yang palsu. BD mendidik kita muroqobatullah, kita dididik jujur atas kamera cctv dari Allah langsung. Pertanggung jawabannya antara kita ke Allah langsung. Amalan yaumiyah ini bukan target kita harus qiyamul latl tiap hari, harus baca 1 juz tiap hari, harus duha tiap hari. Ini semua benar-benar dikembalikan ke kita sebagai hamba Allah mau model ibadah kita kayak gimana ya setor aja apa adanya, ngga perlu dimanipulasi juga, pihak BD juga tidak akan mengekspos siapa-siapa yang masing bolong shalatnya, yang masih belum bisa baca Al-Qur’an.

Kenapa ngga di ekspos, karena latar belakang mahasiswi BD macem-macem ada yang sudah paham agama, ada yang baru aja hijrah, ada yang baru aja muallaf, dsb. Bener-bener beragam. Nah di grup CAFE nanti kita bisa saling bantu, saling sharing tentang agama. Alhamdulillah ngga ada judge selama perkuliahan berlangsung misal, eh elu kan dari muhammadiyah, kalau NU tuh gini cara ngajinya, eh paling bener khilafah tau, atau salafii paling kalem dan luru nih. Sama sekali di BD ngga memandang seperti itu, kita semua sama sahabat sesurga InsyaAllah karena kita sama-sama menyembah Allah, ngga ada blok-blok di BD.

Lalu apakah aku kapok ikut BD level 1? Alhamdulillah bulan Februari di tahun ini adalah terakhir perkuliahan di level 2, dan ketagihan ikut level selanjutnya? BD semacam teman menurutku untuk mengupgrade diri tiap harinya, menamparku tiap tingkatnya untuk sadar jangan futur terlalu lama. Karena peranbaru says sebagai ibu dan juga istri sangatlah banyak tantangan dan godaannya, jika aku dalam keadaan futur berkepanjangan, entahlah peradaban macam apa yang akan kulihat di masa mendatang? lah kok jadinya ngga nyambung sih ya? hehehe maap penulis lagi mellow

Untuk tambahan embel-embel tentang Bengkel Diri yang belum terjawab dalam artikel ini boleh banget ditanya di komen, insyaAllah akan dijawab langsung di komen atau akan menjadi tambahan cerita dalam artikel ini.

Kategori
Tak Berkategori

Memilih Jurusan dalam Universitas Kehidupan

Milih jurusan di universitas kehidupan bingung bin galaunya udah kayak mau milih jurusan mau masuk universitas aja hho

Jurusan yang ingin saya ambil adalah jurusan menjadi istri & ibu yang salihah. Jurusan itu insyaAllah mencakup semua kebutuhan yang diperlukan untuk mencapai tujuan sebagai istri dan ibu salihah. Dimana yang tadinya saya pribadi ngga jago bahkan ngga bisa masak jadi bisa masak. Karena keadaan SMP dan SMA saya yang boarding dimana makan sudah tersedia dan ketika pulang ke rumah membawa segudang home work ­yang harus kelar dibawa balik lagi ke asrama. Apalah daya masak bye bye. Itu salah satunya poin yang ingin saya capai begitu menikah, bisa masak!

Ngga cuma masak, bercocok tanam pun ingin ku tempuh kayak misal nanam cabe, sayur-sayuran, dkk. Kan mayan hemat beb! teteup hemat ama pelit beda tipis :p . Bisa jahit baju juga mulai ku lirik, ada pesan mendiang mama yang ingin membuat pelatihan jahit buat anak yatim secara gratis. Modalnya akika kudu bisa jahit dulu lah yaa. Segudang pekerjaan normalnya yang bisa dilakukan wanita semua ingin ku bisa. Yah seperti ngin membayar kehilangan waktuku yang harusnya ku bisa kerjakan, yang bisa ku ‘curi’ ilmunya selama mendiang mama masih ada :). Semoga melalui sekolah Kehidupan yang diperantarai IIP ini bisa menjadikan diri lebih baik lagi.

Alasan terkuat memilih jurusan ini, karena sumbangsih terbesar saya, sebagaimana Allah menciptakan saya sebagai perempuan adalah sebagaimana saya kodratnya sebagai wanita. Sumbangsih saya dalam wujud wanita yang diciptakan Allah dengan tujuan menjadi khalifah di muka bumi adalah sebagai ibu yang melahirkan anak-anak dimana suksesnya peradaban dilihat dari bagaimana cara ibu mendidik anaknya. Selain memang tugas sebagai istri tetap nomer satu, insyaAllah menjadi ibu bagi peradaban dunia mengikuti sesuai ridha suami.

Selama ini, yang sudah saya lakukan untuk mencapai tujuan suksesnya menjadi seorang istri dan ibu salihah adalah mengikuti parenting-paenting baik online maupun seminar. Follow akun-akun yang memberikan pengetahuan tentang fun education, home education, Islamic parenting dan yang berbau tentang parenting. Sebelum saya menjadi ibu yang keren, saya di gmbleng oleh Allah untuk jadi istri yang salihah di mata Allah dan suami :’) jadi pengen nangis kalau mau cerita di part ini. Singkat cerita saya dipertemukan oleh salah satu akun pribadi yang mana kebetulan akun tersebut memiiki sekolah online juga yang memberikan materi mengenai ke-rumahtangga-an yang isinya membuat saya tertampar plak plak dan bikin mak jleb mak tratap terpoteQ hati hayati. Singkat cerit lagi saya berbenah sampai sekarang untuk terus berusaha menjadi istri yang salihah. Perubahan sikap yang saya perbaiki dalam mencari ilmu adalah lebih sabar dalam menerima setiap didikan dari alam. Mengapa saya menyebutnya dari alam, karena ilmu yang saya dapat tidak hanya melalui materi-materi seperti file ataupun ceramah, melainkan melalui timbal balik perilaku antara saya dengan suami ataupun saya dengan anak. Lebih sabar mendapatkan jawaban dari alam dari pelajaran-pelajaran kehidupan yang masih saya pertanyakan. Saya menjadi lebih sering untuk beristighfar guna membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk, termasuk iri dengki. Lebih disiplin membuat catatan ataupun planning-planning yang akan diaplikasikan dari ilmu yang sudah di dapat. Lebih bersungguh-sungguh lebih fokus dalam menjalankan peran sebagai istri dan juga ibu.

Kategori
Tak Berkategori

Aliran Rasa Mengikuti Studium General MIIP Batch 7

Jujur ini kali pertamanya saya mengikuti IIP (Institut Ibu Profesional) setelah dua kali ditolak. Eh bukan ditolak sih, tapi dua kali saya kurang cepet daftar sehingga link untuk daftar menolak saya untuk bisa gabung IIP hehehe. Alhamdulillah setelah sekian abad akhirnya saya join juga di MIIP (Matrikulasi Institut Ibu Profesional) Batch ke 7 (berbunga bunga).

Setelah tersaring ternyata ngga langsung masuk Matrikulasi, ada tahap Foundation IIP terlebih dahulu. Apa itu Foundation IIP, akan saya ceritakan dalam cerita selanjutnya InsyaAllah 🙂

Ketika sudah masuk dalam geng MIIP ada penyambutan dari pihak IIP yang telah lulus Matrikulasi. Jadi kasarannya kayak ada masa-masa orientasi buat mahasiswi-mahasiswi yang bingung arah cem saya ini. Penyambutannya dinamakan Studium General (SG).

SG di batch 7 sendiri diadakan 2 hari di jam tujuh malam sampai jam 9 malam, mungkin beda batch akan beda waktu pelaksanaannya, wallahua’lam :).

Hari dimana SG akan berlangsung rasanya deg-deg-an, penasaran, exited , semua rasa jadi satu. Kayak gimana sih SG itu, secara istilah SG aja masih asing bagi saya hehe. SG sendiri dihadiri oleh seluruh peserta matrikulasi se-Indonesia raya, bahkan ada juga yang dari luar negeri W.O.W (terkesima).

Setengah jam sebelum acara dimulai, saya dan teman-teman diberi link untuk mengisi absensi dan masuk ke telegram, yup SG berlangsung melalui telegram. Udah ngerti sih kalau yang bakal nampung orang banyak itu aplikasi telegram, tapi yang bikin ngga nyangka itu adalah peserta mastrikulasi se-Indonesia raya ditambah yang dari luar negeri kurang lebih mencapai 2.600 peserta dan itu semua masuk ke dalam telegram (amazing). Lagi – lagi saya dibikin terkesima oleh IIP, terimakasih saya haturkan ke bu Septi Peni dan pak Dodik (suami bu Septi) yang sudah menggagas adanya komunitas IIP, belum jalan matrikulasinya tapi saya sudah membayangkan bagaimana asieque dan kerennya matrikulasi nanti (bahagia).

Waktu SG pun dimulai, seperti yang saya duga, “pasti entar di tele (telegram) rame banget deh”, sambil bayangin emak-emak bakal memperkenalkan dirinya, bayanginnya kayak pasar kaget. Bener dong yaaa, masyaAllah semua emak-emak, bunda-bunda, calon bunda rame beud (banget) antusias menyambut SG sampai pusing bacanya saking ratusan chat masuk dalam waktu bersamaan.

Sembari memperkenalkan diri panitia juga dengan sabar dan telatennya mengingatkan peserta dan memberikan peraturan selama SG berlangsung. Sampai-sampai rasanya saya kayak lihat acara di atas panggung, panitia bagus banget membawakan dan mengkondisikan grup. Mulai dari pengumuman, pengingat acara mau dimulai, berdoa bahkan ada videonya, sambutan pun dibuat ada video pulak,  keren banget lah pokoknya (jempol).

Masuklah waktu sambutan-sambutan dari para jajaran IIP. Ehm saya baper sebenernya denger sambutannya, dan saya ingin menularkan kebaperan ini ke pembaca yang budiman.

Sambutan dari bu Septi yang paling mengesankan ketika beliau mengatakan, “…Selamat belajar dan terus belajar untuk mencapai yang terbaik versi anda”. Di detik itu juga rasanya mak-nyess. Air mata langsung menggenang di putjuk mata, nulis ini pun juga gitu, hiks.

Ya Allah betapa selama ini kita tuh, eh gue doang kaleee, berfikir bahwa apa-apa yang kita capai kayak ngga maksimal lah, kok aku ngga bisa kayak dia, kok anakku begini, kok aku begitu, dsb. Mengukur diri sendiri dari capaian-capaian yang sudah dilakukan oleh orang lain. Ngapain coba ya kan buang-buang waktu, tenaga, pikiran untuk membandingkan diri sendiri ama orang lain. Bahkan kita ngga kenal ama orang yang kita jadikan tolak ukur. Secara jaman know kita dengan mudahnya mengakses internet buat cuci mata liat kesana kemari, termasuk life style kehidupan orang lain. Fyuh… tobat deh tobat godhul bashar ama jaga hati dari bandingin diri ke orang lain. Keep waras!

Next,

Sambutan dari ketua IIP, mbak Itsnita Husnufardani, yang akrab dipanggil mbak Farda. Sambutan beliau yang bikin deg, “…Bagaimana menjalankan peran ibu dan mengenali diri, memahami diri, serta berdamai dengan diri, sehingga siap menjadi ibu yang lebih baik, bermetamorfosa menjadi ibu yang lebih baik….”.

Betapa, saya ngerasa diri ini tu keciiiil banget, gampang banget kebawa arus. Ya itu tadi kembali karena kita eh saya terlalu fokus menilai diri, gampang banget membandingkan diri sendiri sama orang lain. Saya semakin yakin, berjalannya waktu dalam megikuti IIP ini mempermudah untuk mengenal diri, mengendalikan diri, hingga berdamai dengan diri. Ini puenting banget untuk menjaga ke-waras-an apalagi buat ibu-ibu yang pernah melewati masa-masa baby blues.

Selanjutnya sambutan yang juga bikin tarik nafas panjang, Handayani Retno H sebagai manager IIP “…membersamai teman-teman semua dalam belajar lebih untuk bahagia menjalani perannya sebagai ibu, sebagai seorang perempuan”. Mak deg mak tratap

Ya Allah kenapa semua sambutan ini nampol banget yak.. secara ngga langsung Allah menyindir saya lewat IIP, lewat sambutan-sambutan ini. Betapa kurang bersyukurnya saya dengan keadaan saya saat ini, bingung euy mau mengungkapkan dalam tulisannya gimana. Rasanya nano-nano bahagia, tertegun, terharu, sedih, nyesek, ada rasa “oh iya ya, selama ini aku kayak gini”. Semua yang saya rasakan ini baru di taraf acara SG, belum masuk ke matrikulasinya. Udah bayangin betapa besarnya manfaat saya ikut komunitas ini. Semoga harapan ikut IIP berbuah indah 🙂

Sebenernya masih ada testimoni dari para alumni MIIP dari batch 1 – 6, insyaAllah besok-besok akan saya rangkumkan juga bareng ama testimoni saya sendiri 🙂

Harapan setelah mentas dari matrikulasi nanti semoga saya menjadi ibu yang bahagia, ibu yang penuh kesadaran utuh melakukan tugas sebagai ibu, yang penuh kesadaran utuh menjalankan peran sebagai istri, perempuan walaupun dengan segudang amanah, mudah berdamai dengan diri, fokus dengan tujuan keluarga kecil saya, lebih melejitkan potensi diri yang terpendam,  fokus dengan apa adanya diri saya 🙂

Salam, ibu waras wajib bahagia!

Kategori
Tak Berkategori

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai